Kamis, 22 November 2012

cerpen karya Ahmadun Y. Herfanda + analisis unsur intrinsik cerpen


ARISAN

Ahmadun Y. Herfanda
Warga pemukiman baru di selatan kota Jakarta, Blue Garden, sepakat untuk mulai tradisi aneh: arisan tuyul. Ini gara-gara semua warga pemukiman itu memelihara tuyul sehingga mahluk-mahluk kecil gundul tersebut tak punya ruang gerak lagi untuk melakukan aksinya. Padahal mereka sudah terlanjur menyerahkan upeti istimewa kepada juragan tuyul yang bermukim di sebuah goa tua di bawah pohon munggur di selatan kampung mereka.
Ada satu keanehan yang selalu membuat pusing para warga Blue Garden, yakni keinginan dan kelakuan para tuyul itu yang selalu sama persis. Ketika maksud menggasak uang Badrun. Karena si Badrun punya tuyul, maka pada saat yang sama semua tuyul pun datang ke rumah Badrun untuk menyikat uang itu
Kalau sudah begitu, perkelahian missal antartuyul tak bias dihindari lagi. Mereka saling tinju, saling tendang, saling cekik dan saling tindih. Dan sesuai dengan kehendak sang Mitos, para pemilik tuyul itu pun menyusul datang untuk ikut berkelahi ramai-ramai sampai babak belur. Mereka baru berhenti berkelahi setelah kehabisan tenaga. Tak jarang mereka lantas masuk rumah sakit bersama.
Perkelahian massal yang aneh itu terjadi hampir tiap hari, tiap tuyul ada yang berinisiatif untuk mencuri. Bahkan pada suatu hari, saking serunya perkelahian massal, pakaian mereka sampai robek-robek total, sehingga mereka menjadi telanjang bulat dan menjadi tontonan anak-anak kecil.
“Kalau begitu kita bisa mampus gara-gara tuyul.” Kata Buang, yang kebetulan menjabat sebagai ketua RW,sambil mengusap-usap dahinya yang benjol dan berdarah.
“kita harus cari jalan keluarnya, Pak,”sahut Badrun. “Bapak selaku ketua RW harus ikut bertanggung jawab.”
“Bertanggung jawab bagaimana? ‘kan kemauan kalian sendiri untuk ikut-ikutan memelihara tuyul.sekarang begini akibatnya.”
“Tapi kan Pak RW yang menjadi pelopor pemelihara tuyul.”
“Ya jelas kami harus ikut , Pak. Kalau Bapak sendiri yang pelihara tuyul, apa Bapak mau menggilir uang kami semua untuk digasak? Tidak adil dong.”
“Sudahlah. Kita jangan berdebat lagi. Yang penting kita cari jalan keluarnya.”
“Bagaimana kalau tuyul-tuyul itu kita larang mencuri di kampong kita? Mereka kita tugasa tambah kan untuk mencuri di luar kampong saja. Di bank, misalnya.”
“Itu gagasan yang baik. Tapi apa mereka mau?”
“saya kira mau saja. Asal gaji mereka kita tambah dengan uang transport dan uang saku. Ini lebih baik daripada kita semua kehilangan sumber penghasilan sama sekali.”
“Hai para tuyul!”teriak pak RW. Para tuyul itupun segera berkumpul.”Mulai hari ini kalian kami larang untuk beroperasi dikampung ini. Kalian harus mencari sasaran di luar kampung. Soal uang transport jangan khawatir. Kami sediakan uang saku. Apa kalian siap?”
***
Syahdan dimulai operasi para tuyul di luar Blue Garden. Tuyul Pak RW mengincar uang di Bank Plecit, didekat pasar kota. Ia sudah membayangkan tuyulnya bakal membawa puang uang puluhan juta sekaligus tapi dasar otak para tuyul itu sudah terlanjur seragam, tuyul-tuyul yang lain pun mengincar uang di bank yang sama. Pada jam, menit dan detik. Mereka berebutan masuk lantas berkelahi habis-habisan di halaman bank.
Sesuai dengan kehendak sang Mitos, para pemilik tuyul itu pun lantas menyusul bersama-sama dan pada derik yang sama mereka sampai di halaman bank. Kemudian tanpa ba bi bu, mereka langsung saling tempeleng, saling jambak, saling pithing, dan saling tindih. Halaman bank menjadi arena perkelahian massal yang benar-benar seru. Tuyul lawan tuyul, orang lawan orang, laki-laki perempuan, tak jelas mana kawan mana lawan. Orang-orang sepasar berbondong-bondong menyaksikan Baratayudha itu. Jalan besar di depan bank menjadi macet total. Perkelahia baru berhenti ketika mereka menyadari pakaian mereka sudah tidak karuan lagi…. “Ini lebih memalukan!” Teriak Pak RW sesampai di kompleks Blue Garden. “Siapa salah?Tuyul pada edan disuruh operasi di luar kampung!”Sahut yang lain. “Kita laporkan saja pada Mbah Dukun.” “Kita minta agar mereka diadili.” ;Kita minta agar mereka disetrap saja.” “Kita usulkan saja agar predikat ketuyulan mereka di copot!”
Mereka langsung mengadu pada Mbah sarmio,dukun penyalur tuyul, yang bermukim di dalam goa,dibawah pohon munggur, di bagian selatan pemukiman itu. “Salah kalian juga,” Kata Mbah Sarmio begitu mendapat pengaduan warga Blue Garden. “Masak, sekampung minta diberi tuyul semua. Mana bisa tuyul-tuyul tersebut bekerja dengan baik.” Orang-orang itu hanya diam smbil bersila didepan goa.”Kalian ini aneh, Ingin tambah kaya tapi malas bekerja.” “Lantas sekarang sebaiknya bagaimana Mbah?”
“Ya, arisan tuyul. Seminggu sekali tuyul-tuyul itu biar mencuri di rumah masing-masing saja. Agar adil,tiap orang harus menyediakan uang 50.000 tiap minggunya untuk dicuri tuyul. Uang itu biar dikumpulkan di goa saja. Tiap Jumat sore kalian harus berkumpul di rumah Pak RW. Sayalah yang akan mengundang siapa yang mendapat giliran menerima uang arisan itu. Nah, sekarang kalian pulang saja. Jumat sore besuk kita mulai.”
“Wah, sama saja tak peihara tuyul,” Gumam orang-orang.
“Daripada berkelahi setiap hari.”
Tibalah hari yang di tunggu-tunggu. Jumat sore hari putaran pertama arisan tuyul. Sejak pukul 4 sore semua warga telah berkumpul di rumah Pak RW. Dengan gelisah mereka menunggu kedatangan mbah dukun beserta tuyulnya, tentu dengan bungkusan uang dalam jumlah besar. Masing-masing berdoa untuk mengharapkan rejeki pada putaran pertama jatuh ketangannya. Setelah ditunggu 2 jam lebih, orang tua penghuni goa itu baru muncul bersama tuyul dan bungkusannya.
“Kenapa terlambat Mbah?” Tanya orang-orang. “Ini gara-gara kalian juga. Kalian tidak menyediakan uang 50.000 untuk di curi tuyul bukan?” “Kalau kami harus menyediakan uang, lantas apa bedanya dengan arisan ibu-ibu pkk Mbah.” “Itu masalahnya. Padahal uang itu wajib demi kelancaran arisan. Tuyul saya terpaksa mencari uang pengganti,makanya terlambat.” “Tapi uang itu ada toh, Mbah.” “Lihat saja nanti.”
Arisnpun dimulai. Nama tiap-tiap kepala keluarga peserta arisan ditulis pada sobekkan kertas hvs, lantas dilintng kecil dan dimasukkan ke kaleng. Setelah dikocok, Mbah Sarmio mengambil 1 lintingan dan membukanya” Kali ini yang beruntung mendapat rejeki Sodara Buang. Selamat atas rejeki nomplok ini. Harap jangan dibuka di sini. Bukalah di kamar saja,” Kata Mbah Dukun. “Sekarang saya mau pulang dulu”
Mbah Sarmio, dukun tuyul itupun meninggalkan arisan bersama tuyulnya. Buang tidak sabar menunggu. Begitu mbah dukun sudah jauh, ia langsung membuka bungkusan besar dari orang tua itu, ia sangat kaget ternyata isinya hanya tumpukan daun nangka.
Sumber : Lukisan Matahari, 19 Cerpen Piliham Bernas, F.X. Mantoro Suryo Putro.



                             ANALISIS UNSUR INTRINSIK CERPEN ARISAN
Unsur Intrinsik adalah unsure yang membangun karya sastra dari dalam. Meliputi :
1. Tema
2. Alur
3. Setting
4. Perwatakan
5. Sudut Pandang
6. Amanat

Ad.
1.      Tema ialah sesuatu yang menjadi dasar cerita atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita.
Tema cerpen Tuyul diatas adalah : Mencari kekayaan dengan jalan pintas
Penjelasan : Warga Blue Garden Jakarta ingin kaya tetapi tidak  mau bekerja, jalan satu-satunya mereka semua memelihara tuyul.

2.      Alur ialah jalan cerita yang dibuat oleh pengarang dalam menjalin kejadian atau peristiwa secara runtut sehingga terjalinlah satu cerita yang bulat.
Alur cerpen tersebut adalah alur maju.
Penjelasan : Karena menceritakan peristiwa dari awal, pertengahan sampai akhir.

3.      Setting ialah Tempat, suasana, dan waktu kejadian cerita.

Setting tempat cerpen tersebut adalah :
a.       Blue Garden, Jakarta.
Penjelasan : Warga pemukiman baru di selatan Kota Jakarta, Blue Garden, sepakat untuk memulai tradisi aneh. Arisan tuyul
b. Bank Plecit
Penjelasan : Tuyul Pak RW mengincar uang di Bank Plecit.
Pada jam, menit, dan detik yang sama mereka pun tepat sampai di pintu bank(Bank Plecit). Mereka berebutan masuk lantas berkelahi habis-habisan di halaman bank
c. Rumah Pak RW
Penjelasan : Tiap Jumat sore kalian harus berkumpul di rumah Pak RW.
Sejak pukul 4 sore semua warga telah berkumpul di rumah Pak RW.
d. Gua
Penjelasan : Mereka langsung mengadu pada Mbah Sarmio,dukun penyalur tuyul, yang bermukim di dalam Gua,di bawah pohon munggur, di bagian selatan pemukiman itu.

Setting suasana cerpen tersebut adalah :
a.       Rusuh (Saat tuyul dan pemiliknya berkelahi).
Penjelasan : Perkelahian massal antartuyul tak bisa ddihindari lagi. Mereka akan langsung saling tonjok, saling tinju, saling tendang, saling cekik dan saling tindih.
Kemudian tanpa ba bi bu, mereka langsung saling tempeleng, saling jambak, saling pithing, dan saling tindih.
b.      Gelisah
Penjelasan : Dengan gelisah mereka menunggu kedatangan mbah dukun beserta tuyulnya, tentu dengan bungkusan uang dalam jumlah besar.
c.       Senang (Saat Buang mendapat rezeki)
Penjelasan : “Kali ini yang beruntung mendapat rezeki saudara Buang. Selamat atas rezeki nomplok ini. Harap jangan dibuka di sini. Bukalah di kamar saja.”

4.      Perwatakan ialah segala watak yang ada dalam diri tokoh-tokoh cerita. Yang ada di dalam cerpen antara lain :
a.       Pak Buang(Pak RW) =
                                      - Pelopor pemelihara tuyu & contoh yang tidak baik.
Penjelasan : “Tapi kan Pak RW yang menjadi pelopor pemelihara tuyul.
                                      - Malas bekerja, tapi ingin kaya.
Penjelasan : Tuyul Pak Rw mengincar uang   di Bank Plecit,di dekat pasar kota. Ia sudah membayangkan tuyulnya bakal membawa pulang uang puluhan juta sekaligus.
                                      - Mudah dibohongi & tidak sabaran. Penjelasan : Buang tidak sabar menunggu. Begitu mbah duku sudah jauh, ia langsung membuka bungkusan besar dari orang tua itu, ia sangat kaget. Isinya ternyata   hanya daun nangka.
       b.  Pak Badrun                =
                                            - Memiliki inisiatif.
 Penjelasan : “Kita harus cari jalan keluarnya, pak.
       c.  Mbah Sarmio              =
                                  -  Cerdik & Banyak Akal.
Penjelasan : “ Ya, arisan tuyul. Seminggu sekali tuyul-tuyul itu biar mencuri di rumah masing-masing saja. Agar adil, tiap orang harus menyediakan uang Rp.50.000 tiap minggunya untuk dicuri tuyul. Uang itu biar dikumpulkan di Gua saja. Tiap Jumat sore kalian harus berkumpul di rumah Pak RW. Sayalah yang akan mengundang siapa yang mendapat giliran menerima uang arisan itu. Nah, sekarang kalian pulang saja. Jumat sore besuk kita mulai.”
     d.  Para Tuyul                   =
                                              -  Memiliki pemikiran yang sama.
Penjelasan : Ada satu keanehan yang selalu membuat pusing para warga Blue Garden, yakni keinginan dan kelakuan para tuyul itu yang selalu sama persis.                                           Tapi dasar otak para tuyul itu sudah terlanjur seragam, tuyul-tuyul yang lain pun mengincar uang di bank.
5.   Sudut Pandang ialah Cara pengarang menempatkan dirinya terhadap cerita, dari sudut mana pengarang     memandang ceritanya.
 Sudut pandang cerpen tersebut adalah Orang ke-III.
 Penjelasan : karena dengan menyebut nama-nama pelaku.

6.   Amanat ialah maksud yang terkandung dalam suatu cerita yang sangat erat hubungannya dengan tema cerita. Amanat cerpen tersebut adalah : -    Kalau ingin kaya, harus kerja keras dengan cara yang halal.
-          Mencari kekayaan dengan bantuan setan tidak akan mendatangkan kebahagiaan.
-          Sebagai orang yang ditunjuk untuk memimpin harus memberi teldan yang baik.
-          Tidak mudah percaya dengan orang lain.
-          Berfikir sebelum bertindak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar